Model Keberlanjutan Sosio-Ekologi Kawasan Riparian Sub-DAS Kahayan : Integrasi Daya Dukung Lahan dan Resiliensi Masyarakat dalam Pembangunan Waterfront City
Pembangunan kawasan Waterfront City telah menjadi salah satu strategi pengembangan perkotaan modern yang bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan, estetika kota, serta pertumbuhan ekonomi berbasis kawasan tepian sungai. Di Kota Palangka Raya, Sungai Kahayan memiliki posisi strategis sebagai pusat kehidupan masyarakat sekaligus koridor ekologis yang menopang keberlanjutan wilayah. Rencana pembangunan Waterfront City di Kecamatan Pahandut diharapkan mampu mengubah kawasan bantaran sungai menjadi kawasan yang lebih tertata, produktif, dan memiliki nilai wisata tinggi.
Namun demikian, pembangunan tersebut menghadapi tantangan besar karena karakteristik biofisik wilayah berupa lahan gambut dan tanah aluvial yang memiliki daya dukung rendah serta rentan mengalami penurunan muka tanah (subsidence). Selain itu, perubahan tata ruang juga berpotensi mengganggu fungsi hidrologis kawasan riparian dan memengaruhi keberlanjutan ekosistem.
Di sisi lain, masyarakat bantaran Sungai Kahayan memiliki hubungan sosial, ekonomi, dan budaya yang sangat erat dengan sungai. Kehadiran rumah lanting, aktivitas perikanan, perdagangan sungai, serta budaya lokal menjadi bagian penting dari identitas kawasan. Oleh karena itu, pembangunan Waterfront City tidak hanya mempertimbangkan aspek fisik semata, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan secara berkelanjutan.